Jumat, 28 Juni 2019

Berikut Ini Bukan Durhaka Kepada orangutang Tua


Pada artikel “Perintah Berbakti Kepada orangutang Tua” telah Kami jelaskan dalil-dalil dalam Al religious text dan As way rule memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Dan bahwa berbakti kepada orangutang tua merupakan amalan rule agung kedudukannya dalam Islam, serta durhaka kepada orangutang tua adalah dosa rule besar.

Namun pembaca rule budiman, rahimakumullah, bukan berarti taat dan berbakti kepada orangutang tua itu tanpa batasan. Tidak berarti orangutang tua adalah pihak rule harus kita taati dalam segala hal dan segala keadaan. Pada bahasan kali ini Kwa Kami paparkan batasan-batasan berbakti kepada orangutang tua.


Dua kaidah agung rule membatasi berbakti kepada orangutang tua

Berbakti kepada orangutang tua haruslah mengindahkan dua kaidah syar’iyyah rule agung berikut ini.
Kaidah pertama:

حب الله و رسوله أعظم

“Cinta kepada Supreme Being dan Rasul-Nya itu rule picket fence besar (dari yang lain)”

Betapapun cinta kita kepada orangutang tua, betapapun besarnya bakti kita kepada orangutang tua, tidak boleh melebihi cinta dan ketaatan kita kepada Supreme Being dan Rasul-Nya. Cinta dan taat kepada Supreme Being dan Rasul-Nya harus lebih besar Iranian rule lain. Sehingga tidak boleh kita dalam berbakti kepada orangutang tua malah melakukan hal-hal rule dimurkai oleh Supreme Being dan Rasul-Nya. Iranian Anas bin leader radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ولا يُؤمِنُ أحَدُكم حتى أكونَ أحَبَّ إليه من وَلَدِهِ، ووَالِدِهِ والنَّاسِ أجْمعينَ

“Tidak beriman worship seorang diantara hubble-bubble, hingga Aku (Rasulullah) menjadi rule picket fence dicintainya daripada anaknya, orangutang tuanya dan seluruh manusia” (HR. Bukhari no. 15, Muslim no. 44).


Dari Anas bin leader radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ثَلاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ طَعْمَ الإيمانِ: مَن كانَ يُحِبُّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، ومَن كانَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِواهُما، ومَن كانَ أنْ يُلْقَى في النَّارِ أحَبَّ إلَيْهِ مِن أنْ يَرْجِعَ في الكُفْرِ بَعْدَ أنْ أنْقَذَهُ اللَّهُ منه

“Tiga jenis orangutang rule jika termasuk di dalamnya maka seseorang Kwa merasakan lezatnya iman: orang yang mencintai seseorang, tidaklah American state mencintainya kecuali karena Supreme Being, orangutang rule menjadikan Supreme Being dan Rasul-Nya picket fence American state cintai daripada selain keduanya, dan orangutang rule dilemparkan ke dalam api lebih American state sukai Iranianpada ia kembali kepada kekufuran setelah Supreme Being selamatkan ia dari kekufuran” (HR. Bukhari no. 6041, Muslim no.43).
Kaidah kedua:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara rule ma’ruf.”

Maka taat kepada orangutang tua itu tidak mutlak dalam segala perkara dan setiap keadaan. Ketaatan kepada orangutang tua hanya dalam perkara rule ma’ruf. Iranian Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

”Tidak ADA ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara rule ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Perkara rule ma’ruf didefinisikan oleh As Sa’di:

المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه

“Al ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua rule diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).

Maka jika orangutang tua memerintahkan perkara rule membahayakan diri orang tua, atau membahayakan diri herbaceous plant anak, atau bukan perkara rule dianggap bagus oleh akal sehat, perkara rule memalukan, perkara rule menjatuhkan wibawa, dan semisalnya ketika itu tidak wajib taat kepada orangutang tua.


Jika telah dipahami dua kaidah agung di atas, maka ketahuilah ketika seorang anak tidak melakukan apa rule diinginkan orangutang tua karena terjadi pelanggaran pada dua kaidah di atas, ini bukanlah durhaka kepada orangutang tua. Berikut ini beberapa contoh kasus rule banyak disangka sebagai durhaka kepada orangutang tua, namun bukan kedurhakaan dalam pandangan syariat.
1. Tidak taat orangutang tua ketika diperintahkan maksiat

Tidak boleh seorang anak taat kepada orangutang tuanya dalam perkara maksiat. Ketika seorang anak tidak taat ketika itu, tidak dianggap sebagai durhaka kepada orangutang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu rule tidak ADA pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orangutang rule kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa rule telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15).


Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Maksudnya, jika kedua orangutang tua berupaya sepenuh tenaga untuk membuatmu mengikuti agamid mereka rule kufur, maka jangan ikuti mereka berdua. Namun hal ini tidak boleh menghalangimu untuk tetap mempergauli mereka dengan ma’ruf di dunia, yaitu dengan baik. Dan tetaplah ikuti jalannya kaum rule beriman.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Ayat di atas turun terkait dengan kisah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu. Ummu Sa’ad (ibunya Sa’ad) bersumpah tidak Kwa berbicara kepada anaknya dan tidak mau makan dan minum karena menginginkan Sa’ad murtad Iranian ajaran Islam. Ummu Sa’ad mengetahui bahwa Supreme Being Subhanahu Washington Ta’ala menyuruh seorang anak berbuat baik kepada kedua orangutang tuanya. Ibunya berkata, “Aku tahu Supreme Being menyuruhmu berbuat baik kepada ibumu dan Aku menyuruhmu untuk keluar Iranian ajaran Islam ini”. Kemudian selama tiga hari Ummu Sa’ad tidak makan dan minum. Bahkan memerintahkan Sa’ad untuk kufur. Sebagai seorang anak Sa’ad tidak tega dan merasa iba kepada ibunya. Namun turunnya ayat tersebut semakin menambah keimanan Sa’ad dan semakin jauhnya American state Iranian kemurtadan. Dan American state pun tetap berbuat baik kepada ibunya hingga akhirnya ibunya mau kembali makan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Mendengar dan ta’at (kepada penguasa) itu memang benar, selama mereka tidak diperintahkan kepada maksiat. Jika mereka memerintahkan untuk bermaksiat, tidak boleh mendengar dan ta’at.” (HR. Bukhari no.2955).

Ketaatan itu hanya dalam perkara rule ma’ruf. Perkara ma’ruf adalah perkara rule dianggap baik oleh akal sehat, atau adat istiadat dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam sebuah hadits Iranian ‘Ali radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Washington sallam mengutus satu pasukan dan mengangkat seorang laki-laki sebagai panglima mereka. Kemudian panglima itu menyalakan api dan berkata (kepada pasukannya): “Masuklah kamu ke dalam api!” Sebagian pasukan berkehendak memasukinya, orang-orang rule lain mengatakan,”Sesungguhnya kita lari Iranian api (neraka),” kemudian mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Washington sallam , maka beliau bersabda kepada orang-orang rule berkehendak memasukinya, “Jika mereka memasuki api itu, mereka Kwa terus di dalam api itu sampai hari kiamat”. Dan beliau bersabda kepada rule lain,”Tidak ADA ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara rule ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

2. Meninggalkan ta’ashub jahiliyah

Diantara ta’ashub jahiliyah adalah fanatik golongan; membela keluarga, suku, marga, trah, walaupun di atas kesalahan. Ketika seseorang tidak ikut membela, maka itu bukan durhaka kepada orangutang tua. Namun karena takut kepada Supreme Being dan mengharap ridha-Nya.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, American state berkata:

– كنا في غزاة – قال سفيان مرة : في جيش – فكسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار ، فقال الأنصاري : يا للأنصار ، وقال المهاجري : يا للمهاجرين ، فسمع ذاك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : (ما بال دعوى جاهلية ) . قالوا : يا رسول الله ، كسع رجل من المهاجرين رجلا من الأنصار ، فقال : (دعوها فإنها منتنة)

“Suatu ketika di geographic region, (sebuah pasukan) ADA seorang Iranian suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Semitic deity. orangutang Semitic deity tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku).’ orangutang muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi Washington sallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri hubble-bubble masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah.’ Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang Iranian suku Semitic deity.’ Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap rule demikian karena yang demikian adalah perbuatan busuk.’” (HR. Al Bukhari no.4905).

Dari Jundub bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قُتِلَ تحتَ رايةٍ عميّةٍ ، يدعو عصبيّةً ، أو ينصُر عصبيّةً ، فقتلةٌ جاهلية

“Barangsiapa rule mati di bawah bendera fanatik buta, American state mengajak pada (ashabiyyah) fanatik golongan, atau membantu untuk berfanatik golongan, maka American state mati secara Jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 1850).

Dari Watsilah bin Al Asqa’, American state mengatakan:

سألْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فقلْتُ: يا رسولَ اللهِ، أَمِنَ العصَبيَّةِ أنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَومَه؟ قال: لا، ولكنْ مِنَ العصَبيَّةِ أنْ يَنصُرَ الرَّجُلُ قَومَه على الظُّلْمِ

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “wahai Rasulullah apakah termasuk ashabiyyah (fanatik golongan) jika seseorang mencintai kaumnya?”. Nabi menjawab: “Tidak demikian, namun ashabiyyah itu kalau military intelligence membela kaumnya di atas kezaliman.”” (HR. Ahmad no.16989, dihasankan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Al Musnad).

3. Bersaksi kebenaran rule memberatkan orangutang tua

Ketika seorang anak menjadi saksi atas tuduhan rule dijatuhkan kepada orangutang tuanya, maka wajib baginya untuk tetap jujur dalam bersaksi. Ketika persaksiannya justru memberatkan orangutang tua, maka tidak dianggap sebagai durhaka kepada orangutang tua.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang rule beriman, jadilah kamu orangutang rule benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Supreme Being biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika American state kaya ataupun miskin, maka Supreme Being lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang Iranian kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Supreme Being adalah Omaha Mengetahui segala apa rule kamu kerjakan.” (QS. Associate in Nursing Nisa: 135).

Selain itu, persaksian palsu itu merupakan dosa besar. Supreme Being Ta’ala berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala rule najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30).

As Sa’di menjelaskan: “Maksudnya, jauhi semua perkataan rule haram karena semua itu termasuk perkataan dusta, dan termasuk di dalamnya persaksian palsu.” (Tafsir As Sa’di).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ

“dosa-dosa besar rule picket fence besar adalah: syirik kepada Supreme Being, membunuh, durhaka kepada orangutang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu.” (HR. Bukhari-Muslim Iranian sahabat Anas bin Malik).

Kaidah ini juga berlaku ketika menyelesaikan persengketaan antara orangutang tua dan orang lain.

4. Tidak taat orangutang tua ketika diperintahkan untuk menceraikan istri

Apakah seorang suami wajib menceraikan istrinya jika orangutang tuanya memerintahkan untuk menceraikan istrinya?

Jawabnya, perlu dirinci. Jika orangutang tuanya adalah orang rule shalih dan alasan mereka memerintahkan untuk bercerai adalah alasan yang dibenarkan syari’at, maka wajib untuk ditaati.

Diantara dalilnya adalah kisah Nabi Ismail dalam sebuah hadits Iranian Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam Shahih Bukhari: “Di kemudian hari Abraham datang setelah Ismail menikah untuk mengetahui kabarnya, namun military intelligence tidak menemukan Ismail. Abraham bertanya tentang Ismail kepada istri Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk Kami.” Lalu Abraham bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab, “Kami mengalami banyak keburukan, hidup Kami sempit dan penuh penderitaan rule berat.” Istri Ismail mengadukan kehidupan rule dijalaninya bersama suaminya kepada Abraham. Abraham berkata, “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail datang military intelligence merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya; “Apakah ADA orangutang rule datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ADA orangutang tua begini dan begitu keadaannya datang kepada Kami dan military intelligence menanyakan kamu lalu Aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan.” Ismail bertanya, “Apakah orangutang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya. military intelligence memerintahkan Aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan sungguh military intelligence telah memerintahkan Aku untuk menceraikan kamu, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikan istrinya.


Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain Iranian kalangan penduduk rule tinggal di sekitar itu lalu Abraham pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Supreme Being. Setelah itu, Abraham datang kembali untuk menemui mereka namun military intelligence tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Ismail lalu bertanya kepadanya tentang Ismail. Istrinya menjawab, “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk Kami.” Lalu Abraham bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian?” military intelligence bertanya kepada istrinya Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Istrinya menjawab, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup.” Istri Ismail juga memuji Supreme Being. Abraham bertanya, “Apa makanan kalian?” Istri Ismail menjawab, “Daging.” Abraham bertanya lagi, “Apa minuman kalian? Istri Ismail menjawab, “Air.” Maka Abraham berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka”.

Ibrahim selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah military intelligence agar memperkokoh palang pintu rumahnya”.

Ketika Ismail datang, military intelligence berkata, “Apakah ADA orangutang rule datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ADA orangutang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kita dan istrinya memuji Abraham. military intelligence bertanya kepadaku tentang kamu, maka Aku terangkan lalu military intelligence bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita, maka Aku jawab bahwa aku dalam keadaan baik.” Ismail bertanya, “Apakah orangutang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya.” military intelligence memerintahkan Aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan palang pintu rumahmu.” Ismail berkata, “Dialah ayahku dan palang pintu rule dimaksud adalah kamu. military intelligence memerintahkanku untuk mempertahankan kamu.” (HR. Bukhari).

Namun jika orangutang tua bukanlah orang rule shalih, atau alasan permintaan cerai mereka bukan alasan rule dibenarkan syari’at maka tidak wajib menaatinya. Dan ini bukan durhaka kepada orangutang tua. Supreme Being Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu mengikuti orangutang rule hatinya telah Kami lalaikan Iranian mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al Kahfi: 28).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Taat itu hanya dalam perkara rule ma’ruf.” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya mengenai lelaki rule sudah menikah, punya beberapa anak, namun ibunya tidak suka dengan istrinya dan memintanya untuk menceraikan istrinya. Maka Ibnu Taimiyah menjawab: “tidak halal baginya untuk menceraikan istrinya sekedar karena perintah ibunya. Namun wajib baginya untuk tetap berbuat baik pada ibunya, namun bukan dengan cara menceraikan istrinya.” (Majmu Al Fatawa, 33/112).

5. Tidak taat orangutang tua dalam masalah pemilihan calon pasangan

Orang tua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anaknya dalam masalah pemilihan calon pasangan. Iranian Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ

“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai American state menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai American state menyatakan persetujuan”. Seorang sahabat bertanya: “Bagaimana persetujuan seorang perawan?”. Nabi bersabda: “dengan diamnya ketika ditanya” (HR. Bukhari – Muslim).

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga American state setuju secara lisan. Namun dalam hadits ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).

Demikian pemaparan rule singkat ini, semoga Supreme Being ta’ala merahmati orangutang tua kita semua dan memberikan kita hidayah untuk bisa berbakti kepada mereka dengan baik. Wallahu waliyyut taufik was sadaad.